Ticker

6/recent/ticker-posts

Bocah Berumur 9 Tahun Asal Sukabumi Ini Jualan Gorengan Untuk Biaya Sekolah

Pak beli gorengannya pak, seribu aja biar cepat abis pak,” celoteh bocah bernama Aldiansyah Saputra (9) ini sempat mengusik perhatian pengendara motor yang melintas di Jalan Nyomplomg, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Kisah tentang Aldi sempat ramai diperbincangkan beranda media sosial Facebook karena kegigihannya menjual gorengan meski harus berada di tengah air hujan. Gorengannya sudah dingin, namun semangat Aldi tetap membara mengumpulkan sedikit demi sedikit hasil keuntungan yang dia dapat.

kisahnya sempat viral di media sosialkisahnya sempat viral di media sosial Foto: Syahdan Alamsyah

Siswa kelas 2 SD itu kini tidak lagi menjual gorengan, menurut kedua orang tuanya ada relawan sosial yang tersentuh dengan kisah Aldi yang akhirnya mengulurkan bantuan. Bahkan Aldi akan diupayakan untuk mendapat Kartu Indonesia Pintar (KIP) agar terbebas dari biaya sekolah.

“Aldi berjualan bukan keinginan kami sebagai orang tuanya, dia yang memang punya niatan buat begitu. Hasilnya dia sisihkan untuk biaya sekolahnya, saya memang sempat bilang Aldi sekolah biayanya lumayan. Mungkin dia nanggepinnya lain sampai mau jualan gorengan,” tutur Yadi (34) ayah Aldi, saat ditemui detikcom di kediamannya Gang Amanah RT 04 RW 01, Kampung Pabuaran, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Nyomplong.

Yadi mengaku tidak punya pekerjaan tetap, sehari-hari dia hanya bekerja serabutan itupun jika ada yang meminta. Jika tidak ada pekerjaan Yadi hanya berdiam dirumah bersama istri dan anak-anaknya.

“Saya cuma lulusan SD, saya salah cerita tentang itu (biaya) di depan Aldi mungkin dia nanggepinnya lain. Susah zaman sekarang cari uang, mau berdagang biayanya juga dari mana,” lanjut dia.

Yadi mengaku punya 10 orang anak, 4 anak dari pernikahannya dengan 2 istrinya yang terdahulu. Dan 6 anak lainnya dari sang istri yang juga pernah menikah. Sehari-hari mereka tinggal ber enam di rumah kontrakan berukuran 3 x 5 meter persegi.

Meski masuk kategori miskin Yadi dan istrinya tidak mendapat fasilitas apapun dari pemerintah termasuk Beras Sejahtera (Rastra). “KIP untuk Aldi juga nggak dapat karena dia nggak punya Akta Kelahiran. Tapi kemarin ada relawan yang datang kesini katanya mau bantu urusin KIP,” tuturnya.

Sementara itu Aldi bercerita jika gorengan yang dijualnya adalah titipan dari tetangga bernama Mak Ihot, jika jualannya habis dia mendapat Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu perhari. Keuntungan itu sebagian dia sisihkan untuk biaya sekolah, sisanya dia pakai untuk jajan adik-adiknya.

“Saya sayang sama adik, mereka suka minta jajan. Biasanya jualan setelah pulang sekolah atau sore. Kalau gorengan enggak habis, saya keliling dulu masuk kampung sampai benar-benar habis semua,” cerita Aldi.

Aldi mengaku sangat ingin menyelesaikan sekolahnya bahkan hingga kuliah. Dia juga nekat berjualan karena mengetahui kondisi keluarganya. “Cape memang, tiap hari jalan muter-muter. Tapi saya ingin sekolah, ingin kerja terus ngebiayain adik,” polosnya



from DETIK INDONESIA http://ift.tt/2xGsGHf
via IFTTT

Post a Comment

0 Comments