Ad Code

Responsive Advertisement

Antara Sebuah Teori Konspirasi Dan Karangan Bebas Literasi

Berbagai macam pemahaman tentang sebuah teori konspirasi kadang membuat orang suka sekali untuk membaca atau mempelajarinya , mungkin karena kalimat teori konsiparasi merupakan sebuah kalimat yang bisa dikatakan keren ataupun memang penasaran dengan apa sebenarnya sebuah teori konspirasi

Dalam sebuah tulisan Antara teori konspirasi, science fiction (sci-fi) atau fiksi ilmiah, dan karangan bebas itu hampir serupa tapi tidak sama. Serupa dalam hal narasi yang kerap out of the box, di luar kelogisan, tidak lumrah dan seterusnya. Sedang perbedaan atau ketidaksamaannya dalam hal rujukan.

Sebuah karangan bebas alias mengarang bebas, misalnya, ini tulisan tanpa rujukan ‘buku’ sama sekali. Asli ekspresi jiwa dan full imajinasi si penulisnya. Ia tanpa referensi data dan fakta riil yang mendukung narasi. Kerap, dimakfumkan di akhir tulisan sebagai catatan: ‘kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka’. Kenapa demikian, sebab karangan bebas sering kali merupakan pengalaman penulis sendiri, contohnya, Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esa dan seterusnya. Sifatnya fiksi dan/atau fiktif.

Sedang fiksi ilmiah (sci-fi) dan teori konspirasi sebenarnya realita kehidupan dan kenyataan hidup yang tersembunyi (hidden reality). Sangat rahasia. Biasanya ia beredar di kalangan tertentu saja. Khalayak ramai jarang mengetahui secara jelas —samar-samar— karena secara logika, sering di luar kewajaran. Lazimnya narasi soal kelompok sekte rahasia, ataupun grand strategy adidaya di masa depan dan lain-lain.

Tak boleh dielak, The Great Pasific War by Hector C Bywater meski seperti fiksi 1925-an dan dianggap fiktif, tetapi belakangan diketahui bahwa buku tersebut adalah fiksi ilmiah. Bahkan dinilai sebagai rencana (rahasia) Paman Sam pada perang Asia Timur Raya dalam rangka menghajar Jepang; atau “Ghost Fleet“-nya PW Singer juga bukan sekedar fiksi semata namun scien-fi. Fiksi ilmiah. Artinya, ada hidden agenda yang disamarkan dalam narasi tersebut.

Jadi, dinilai logis dan tak logis, wajar atau tidak lumrah, itu hanya soal ‘maqom’ (tempat) atau kedudukan dalam arti level kompetensi, intelektual, terutama wawasan dari si publik.

Anak es de, misalnya, ketika ia membaca penugasan kakaknya yang sudah mahasiswa, mungkin akan bertanya: “Nulis apa sich, kak? Aku gak ngerti. Ngarang bebas ya?” Ya. logika dan wawasan es de belum mampu menelan wawasan anak kuliah.

Nah, gambaran di atas — jika dibawa ke ranah publik mungkin ini yang akhirnya muncul kambing hitam jika narasinya tidak dapat diterima logika publik: “Ah, teori konspirasi tuch; atau, ini karangan bebas” dan lain-lain.

Biasanya kalau menemui kasus semacam ini, jawaban olok-oloknya adalah: “Kopimu kurang pahit, jalannya kurang jauh!”



from Halo Dunia https://ift.tt/3e92Dvl https://ift.tt/eA8V8J
via IFTTT

Post a Comment

0 Comments

Close Menu